JellyPages.com

Senin, 08 Oktober 2012

Tugas I Ilmu Sosial Dasar

| | 0 komentar

1. Jelaskan Hakikat Ilmu Sosial Dasar!
Ilmu Sosial Dasar (ISD) membicarakan hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Hubungan ini dapat diwujudkan kenyataan sosial, dan kenyataan sosial inilah yang menjadi titik perhatiannya. Dengan Demikian Ilmu Sosial Dasar memberikan pengetahuan umum dan pengetahuan dasar tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk melengkapi gejala-gejala sosial agar daya tanggap, persepsi, dan penalaran kita dalam menghadapi lingkungan sosial. Ilmu sosial bukanlah suatu bidang keahlian ilmu-ilmu sosial tertentu, seperti politik, antropologi dan sebagainya, tetapi menggunakan pengertian-pengertian berasal dari berbagai bidang ilmu sosial seperti ilmu politik, sosiologi, sejarah dan sebagainya.

2. Jelaskan Tujuan dan Ruang Lingkup Ilmu Sosial Dasar!
Tujuan: lmu Sosial Dasar Bertujuan membantu perkembangan wawasan pemikiran dan kepribadian agar memperoleh wawasan pemikiran yang lebih luas. ISD juga merupakan suatu usaha yang dapat diharapkan memberikan pengetahuan umum dan pengetahuan dasar tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk melengkapi gejala-gejala sosial agar daya tanggap, persepsi dan penalaran mahasiswa dalam menghadapi lingkungan sosial dapat ditingkatkan, sehingga kepekaan mahasiswa oada lingkungan sosialnya menjadi lebih besar.
Ruang Lingkup: Ruang lingkup kajian mata kuliah Ilmu Sosial Dasar (ISBD), meliputi: Berbagai aspek kehidupan yang mengungkapkan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (he humanities), baik dari segi keahlian (disiplin) di dalam pengetahuan budaya, maupun gabungan berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya.

3. Apa yang Menjadi Kajian Ilmu Sosial Dasar?
Yang menjadi kajian ilmu sosial dasar adalah nilai-nilai kebudayaan serta masalah yang menyertainya dalam kehidupan manusia sehari-hari, dengan harapan dapat menjadi semacam lingua franca atau bahasa pemersatu bagi segenap akademisi dari berbagai lapangan ilmiah.


4. Apa yang Dimaksud dengan Masalah Sosial?
Masalah sosial pada hakikatnya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia karena masalah sosial telah terwujud sebagai hasil kebudayaan manusia itu sendiri, sebagai akibat dari hubungan-hubungannya dengan sesama manusia lainnya. Masalah-masalah sosial pada setiap masyarakat manusia berbeda satu sama lain karena adanya tingkat perkembangan kebudayaan dan masyarakatnya yang berbeda serta lingkungan alamnya. Masalah-masalah tersebut terwujud sebagai: masalah sosial, masalah moral, masalah politik, masalah agama dan masalah lainnya.

5. Jelaskan Perbedaan Antara Pengetahuan Budaya dan Ilmu Budaya Dasar!
Pengetahuan budaya ( the humanities ) bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataan-kenyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti. Pengetahuan budaya (the humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian (disiplin) seni dan filsafat. Keahlian inipun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai hiding keahlian lain, seperti seni tari, seni rupa, seni musik,dll
Sedangkan ilmu budaya dasar (Basic Humanities) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan perkataan lain IBD menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran serta kepekaan mahasiswa dalam mengkaji masalah masalah manusia dan kebudayaan.

Ilmu budaya dasar berbeda dengan pengetahuan budaya. Ilmu budaya dasar dalam bahasa Ingngris disebut basic humanities. Pengetahuan budaya dalam bahas inggris disebut dengan istilah the humanities. Pengetahuan budaya mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk berbudaya (homo humanus). Sedangkan ilmu budaya dasar bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan budaya.

Sumber: http://irwanpantau.wordpress.com/2010/02/15/perbedaan-ilmu-sosial-dasar-dengan-ilmu-budaya-dasar/
http://muchad.com/teori-ilmu-sosial-hakikat-tujuan-ilmu-sosial-dasar.html
leer más...

Minggu, 22 April 2012

Cintaku Ada di Pakaian yang Bercahaya

| | 0 komentar

Sajak James Joyce

cintaku ada di pakaian yang bercahaya
di antara pohon-pohon apel,
dimana angin periang sedang berhasrat
untuk terbang dalam kerumunan

di sana, ketika angin periang berlalu
dan merayu daun-daun muda
cintaku pergi perlahan, berkelok
di bayangan dia, di atas ilalang

dan ketika langit biru pucat
di atas pulau yang tertawa
cintaku pergi dengan santai
menjinjing pakaian dia
(pakaian yang bercahaya!)

dengan tangan yang menjaga

Sumber: http://bisikanbusuk.blogspot.com/search/label/terjemahan
leer más...

MALAIKAT

| | 0 komentar

“Bu, apa malaikat itu ada?”

Di sekolah, Lou sering mendengar ibu gurunya bercerita tentang malaikat. Lou tak mengerti, tapi sepertinya gurunya itu memang terobsesi dengan malaikat. Lou mendengar banyak cerita tentang malaikat. Mulai dari ciri-ciri malaikat, jenis-jenis malaikat, nama-nama malaikat, hingga kehebatan malaikat-yang tentu saja selalu membuat Lou terpesona setiap mendengar cerita gurunya itu.

Tapi dari sekian banyak yang Lou dengar dari gurunya, satu hal yang paling diingatnya: yakni bahwa malaikat memiliki sayap, dan sayapnya sangat, sangat, sangaaat lebar. Gurunya itu bilang ketika malaikat mengibaskan sayapnya sekali, maka ia akan menempuh jarak dari bumi hingga langit lapis pertama. Ketika ia mengibaskan sayapnya sekali lagi, maka ia akan sampai pada langit lapis kedua. Begitu seterusnya.

“Woooww..”, kata Lou terkesima mendengar gurunya.

Namun Lou lebih terpesona lagi ketika dikatakan bahwa kehebatan sayap malaikat itu tak ada apa-apanya ketika ia berada di dalam surga.

“Memangnya kenapa, Bu Guru?” tanyanya lugu.

Saat di surga, malaikat pernah ingin mencoba mengukur luas surga itu. Ia pun diberikan izin oleh Tuhan. Lalu ia mengibaskan sayapnya sekali. Ia gagal. Sekali lagi dikibaskannya sayapnya. Tidak juga ketemu batasnya surga. Malaikat pun mengibas-kibaskan sayapnya berkali-kali. Hingga akhirnya ia menyerah sebab tak juga ditemukannya batas surga. Begitu gurunya menerangkan kepada Lou.

Lou terkesima sekali lagi.

Gurunya, yang tahu kalau Lou tertarik mendengar cerita-ceritanya tentang malaikat, sering mengajak Lou berbincang-bincang saat jam istirahat. “Kamu mau dengar yang lain lagi tentang malaikat?” tanya ibu guru yang tergolong masih muda itu sambil tersenyum kecil kepada Lou. Lou menatapnya seraya mengangguk. Ibu guru itu pun bercerita lagi tentang malaikat. Atau kalau di kelas sedang ramai, ia mengajak Lou ke kantin atau ke ruangannya atau ke taman untuk berkisah tentang malaikat.

Saat mulai berkisah tentang malaikat, seperti biasa, Lou hanya bisa menatap ibu gurunya itu dengan mata berbinar-binar.

“Bu, Lou ingin bertemu dengan malaikat.”


***


Lou demam tinggi. Di sekitar tempat tinggalnya memang sedang heboh wabah demam berdarah dengue (DBD). Anak-anak silih berganti terkena wabah tersebut. Ada yang hanya sampai demam, ada juga yang sampai meninggal. Orang tua Lou panik, mengetahui suhu tubuh anaknya tak juga kembali normal. Akhirnya mereka memutuskan membawa Lou ke rumah sakit.

Lou kesal sekali berada di rumah sakit. Karena ia jadi tak bisa pergi ke sekolah. Dan karenanya Lou tak bisa bertemu ibu gurunya yang cantik dan mendengar cerita-cerita tentang malaikat. Suster, apalagi dokter di sini, tak ada yang tahu soal malaikat. Setiap Lou bertanya kepada suster yang merawatnya atau kepada dokter yang memeriksanya, apakah mereka tahu tentang malaikat, mereka hanya tersenyum dan tak menjawab pertanyaan Lou.

Dan kalau Lou bertanya kepada ibunya, ibunya hanya menjawab, “Kamulah malaikat kecil ibu, nak.” Sambil mengusap-usap kepala dan mencium pipi Lou.

Lou suka menggambar. Televisi di kamar tempat ia dirawat sama sekali tak memberinya hiburan. Maka ketika suster datang untuk memberinya sarapan, ia meminta buku gambar dan pensil. Lou pun mulai menggoreskan pensilnya di atas kertas putih. Ia menggambar malaikat.

Lou mulai dengan menggambar wajah malaikat. Tak ada mata, hidung, maupun bibir. Hanya sebuah garis seperti kurva yang membuka ke atas. Setelah itu ia menggambar rambutnya. Rambut malaikat seperti apa ya, batin Lou. Ibu guru tak pernah bercerita tentang rambut malaikat kepadanya. Ia pun mengarang-ngarang sendiri. Ia menggambar bentuk rambutnya sendiri. Lalu ia menggambar tubuhnya. Ia juga tak sempat bertanya kepada ibu guru apakah malaikat itu tubuhnya seperti anak kecil atau orang dewasa. “Aduh, kenapa nggak pernah nanya sama bu guru ya, bego.” Lalu ia memutuskan untuk menggambar tubuh anak kecil. Karena lebih mudah dan nanti kalau sudah selesai bisa dijadikan teman, batinnya. Lou tersenyum sebentar. Lalu ia meneruskan menggambar.


***


Ibu guru Lou bertamu ke rumah orangtua Lou dan meminta maaf kepada mereka, juga kepada Lou. Ia meminta maaf karena tak sempat menjenguk Lou di rumah sakit. Mendadak banyak yang harus diurus, katanya. Lou senang sekali dapat bertemu lagi dengan ibu guru. Walaupun ia belum pergi ke sekolah karena dianjurkan untuk istirahat dulu satu-dua hari di rumah. Tapi paling tidak ia bisa bertanya lagi tentang malaikat kepada gurunya itu.

Dengan antusias, gurunya pun bercerita bahwa malaikat dapat merubah wujudnya menjadi apa saja, termasuk menjadi manusia. Ketika ia merubah wujudnya menjadi seorang manusia, ia bisa menjadi siapa saja. Seorang lelaki, perempuan, anak kecil, orang dewasa, penjual sayur, polisi lalu lintas, pemungut sampah, tukang becak, siapa saja yang ia inginkan.

Lou termangu dan mulutnya membentuk huruf ‘O’ kecil.

“Kenapa malaikat mau berubah jadi manusia, Bu Guru?” tanya Lou penasaran.

Ibu guru berkata bahwa manusia sering memiliki masalah. Dan malaikat ada yang ditugaskan oleh Tuhan untuk membantu manusia. Begitulah, Tuhan memiliki cara kerja yang bermacam-macam bentuknya. Bisa langsung dari-Nya, bisa juga lewat malaikat-Nya. Nah, salah satu cara malaikat membantu manusia adalah dengan mengubah wujudnya menjadi manusia dan langsung memberikan pertolongannya kepada manusia yang sedang tertimpa masalah itu.

“Berarti Ibu juga malaikat, ya? Ibu sudah menolong Lou. Waktu Lou di rumah sakit Lou cuma ingin dengar cerita tentang malaikat. Tapi Ibu nggak datang ke rumah sakit. Jadi Lou cuma bisa bikin gambar malaikat. Lou sembuh gara-gara ngebayangin malaikat terus. Itu semua karena Ibu.”

Ibu guru tersenyum. “Kamu menggambar malaikat? Coba sini ibu lihat.”

Lou berlari kecil ke kamarnya lalu keluar dengan membawa selembar kertas. Kedua tangannya disembunyikannya di belakang. “Ayo, mana sini ibu lihat malaikatmu.” Kata ibu guru. Dengan malu-malu, Lou menyerahkan selembar kertas itu kepada ibu guru. “Jangan ketawa ya bu,” kata Lou.

Sesuatu pada selembar kertas tersebut membuat ibu guru Lou terdiam. Sesuatu telah membuat dadanya sesak dan adegan-adegan masa lalu mendadak berkelebatan dalam kepalanya. Detak jantungnya melamban. Kenangan manis sekaligus pahit menyerang lubuk hatinya. Ia menutup mulut dengan sebelah tangan. Ada setitik air menyembul dari sudut matanya.

Lou terdiam, ia terheran-heran melihat ibu guru seperti sedang sedih. “Ibu, kenapa nangis?” tanyanya.

“Lou, kamu juga malaikat. Kamu didatangkan Tuhan untuk menolong ibu.”

Anaknya itu, jikalau masih hidup, pasti dia sekarang sudah seusia Lou. ***

sumber: http://bisikanbusuk.blogspot.com/search/label/fiksi
leer más...

Pintu yang Tak Terkunci

| | 0 komentar

I. Ketukan di Pintu

Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya ketukan itu datang juga. Ketukan yang sebenarnya tidak pernah kutunggu. Tapi sekarang ia hadir. Hadir dari masa lalu yang gelapnya begitu pekat seperti ampas kopi ditelantarkan di langit malam. Hadir dari masa depan yang terangnya terlalu menyilaukan bak sinar matahari diteteskan ke lubuk mata. Hadir dari masa kini yang remangnya membuat jiwa mengambang dan keraguan kian menyerang.

Ketukan itu datang pada pintu kamarku. Terdengar begitu sopan sekaligus tergesa. Aku tak tahu kenapa aku begitu menikmati suaranya, sekaligus berusaha setengah mati menahan degup di dada. Setiap ketukan itu berbunyi, terlintas di kepalaku desing peluru dan ledakan mortir. Setiap itu pula, sebelah telingaku yang lain, mendengar desahan napas wanita yang basah dan menggoda. Aku ingin berhenti mendengarnya, tapi aku juga tak tahan untuk menunggu suara ketukan berikutnya.

Ketukan itu terdengar lagi. Dan semakin lama suaranya menjelma menjadi apa saja.

Aku mendengar tangisan bayi. Aku tak tahu itu tangisan apa. Apakah tangis seorang bayi yang baru lahir, atau tangis seorang bayi yang sedang lapar, atau sedang tersiksa oleh sesuatu. Aku tak bisa membedakannya. Sebab aku tak pernah memiliki bayi, ataupun mengurus bayi. Saat aku masih bayi tentu aku tak bisa mendengar suara tangisku sendiri. Aku bahkan belum memiliki kendali atas diriku, tubuh dan jiwaku. Aku masih dikendalikan oleh malaikat-malaikat yang diutus oleh Tuhan untuk mengawalku. Sementara sekarang saat aku sudah cukup waktu untuk membuat seorang bayi, istriku terlanjur dipanggil kembali oleh yang dahulu menciptakannya. Jadi tangis bayi apakah yang sedang kudengar ini? Bisakah kau memberitahuku?

Aku mendengar ketukan lain. Suara lain..

Kali ini aku yakin. Ini adalah suara seorang perempuan. Dan ia sedang tersiksa. Tapi aku tak tahu ia tersiksa karena apa. Mungkin disiksa suaminya, pacarnya, atau teman lelakinya. Tapi tidak, aku tidak mendengar ada suara lelaki. Hanya perempuan. Begitu lirih. Seakan ia tengah menghembuskan sisa-sisa terakhir suaranya. Aku bahkan bisa merasakan napasnya. Dihirup, dilepas.. dihirup, dilepas. Terdengar letih. Sesekali sesak. Aku jadi ikut-ikutan sesak mendengarnya. Ia seperti menahan tangis. Tapi ia tidak menangis. Hanya nyaris. Aku tahu, perempuan ini pastilah seorang perempuan yang kuat. Meski begitu, aku ingin sekali menolongnya. Tapi akan kutolong dia dari apa? Bisakah kau menolongku?

Ketukan itu seakan mati enggan hidup pun tak mau. Ia seperti dipaksa. Tapi juga terdengar bersungguh-sungguh. Apakah yang ia inginkan, aku juga tak tahu. Atau lebih tepatnya, belum tahu. Sebab belum kusambut ketukan itu. Masih kubiarkan ia mengulang-ulang dirinya di pintu kamarku. Aku ingin memastikan benarkah ketukan itu menujukan dirinya untuk pintuku ini. Ataukah ia salah pintu? Tidak, kurasa tidak. Karena berikutnya, aku mendengar suara ketukan itu sebagai ketukan palu seorang hakim mahkamah.

Kau tahu, ketukan palu seorang hakim mahkamah tak pernah salah.


II. Pintu Kamar

Adapun, pintuku itu tak pernah kukunci. Aku tak merasa perlu untuk mengunci pintu kamarku itu. Bukankah seseorang mengunci pintu kamarnya karena ada sesuatu di dalam sana yang ia tak ingin orang lain melihatnya? Bukankah mereka melakukannya karena ada sesuatu atau banyak hal yang hanya boleh ia sendiri yang menemukannya? Bukankah karena di dalam ruangan di balik pintu itu ada sebuah rahasia? Dan adapun aku, tak merasa perlu menyembunyikan apa-apa. Rahasiaku ada dalam diriku. Bukan di balik pintu itu, di ruang kamar ini.

Maka, siapapun di luar kamar yang tengah mengetuk pintu, masuklah ke dalam kamarku..

Tapi pintu kamarku tetap tak terbuka. Ketukan itu terus saja terdengar. Apakah ia tak mengetahui bahwa pintu kamarku tak pernah terkunci? Apalagi untuk ketukan yang terasa begitu akrab di telingaku ini. Siapakah gerangan engkau, wahai ketukan yang datang tiba-tiba di malam buta?

Aku meraih sebatang lilin yang berdiri agak miring di atas sebuah piring kaca kecil. Apinya bergoyang-goyang seperti seekor anjing peliharaan yang dipanggil majikannya, menggoyang-goyangkan ekornya. Kutiup ia. Padam. Kegelapan menjadi raja di dalam istananya yang sempit: kamarku.

Perlahan, aku berdiri. Setelah sekian lama terduduk di sudut kamar ini. Ketukan itu terdengar lagi dan lagi. Kulangkahkan kaki di atas lantai yang dingin. Sedingin angin malam yang menyusup beramai-ramai lewat celah di jendela. Bulu kudukku ikut berdiri. Disusul oleh gemetar di tempurung lutut dan bibirku. Gigi-gigiku bergemelutuk. Aku tak tahu apa yang tiba-tiba saja membuat udara menjadi demikian dingin ini: angin malam di musim hujan yang menerobos lewat jendela ataukah ketukan di pintu yang kian memperpendek jedanya.


III. Jendela

Mendekati pintu beberapa langkah, rasa takut dan penasaranku semakin menjadi-jadi. Aku berhenti pada langkah ke sekian. Jarakku dengan pintu hanya beberapa sentimeter. Ketukan itu mengubah suaranya menjadi seperti gong. Lalu seperti meriam perang. Kencang dan meledak. Aku bergidik. Aku terdiam sebentar. Mencoba menenangkan diri. Tak bisa. Sulit.

Kutengadahkan kedua tanganku, kutundukkan kepalaku, kupejamkan kedua mataku, untuk memohon kepada Tuhan. Aku meminta agar pintu itu direstui atas ketukan seperti apapun atau siapapun yang mengetuknya. Semoga dosa-dosa pintu yang tak kukunci itu dimaafkan dunia dan akhirat. Semoga pintu itu yang membiarkan apa saja atau siapa saja masuk dan keluar melaluinya diberi tempat yang terbaik di sisi-Nya. Amin.

Aku menatap pintu di depanku. Tengkukku dingin. Kupalingkan wajahku ke belakang: jendela kamarku ternyata cukup lebar.

Aku membalikkan badan. Melangkah ke depan. Di belakang masih terdengar suara ketukan. Seperti senjata otomatis, memberondong hingga puluhan, ratusan, ribuan! Jantungku tak keruan. Degupnya lari kemana-mana. Napasku kabur kemana-mana. Aku tak bisa berlari ke jendela.

Setelah napasku nyaris habis, aku berhasil meraihnya. Kuangkat sebelah kakiku yang lemah dan terasa nyaris seperti lumpuh. Kuangkat lagi sebelah yang lain. Lalu dengan sangat hati-hati, untuk pertama kalinya, kujejakkan kaki di luar kamar ini.

Dari balik jendela, aku menoleh lagi ke dalam kamar. Ke arah pintu. Ke suara ketukan itu. Aku tak mengunci pintu kamarku itu, tapi sekalipun ketukan itu tak mencoba untuk langsung membukanya saja. Sungguh, tak ada yang kusembunyikan. Tak ada sesuatu yang rahasia.

Tapi, kenapa sekarang aku berada di luar kamar, menjauhi pintu itu?

Malam kian lengkap. Angin kian menusuk. Di luar kamar, di ambang jendela, aku menawarkan sambutan kepada siapapun Dia yang sedari tadi mengetuk pintu: “Silahkan masuk.”

Maka pada ketukan terakhir, aku mengosongkan kamarku. Menyembunyikan dunia, menguburnya di dalam sana. Bertukar nyawa dengan baka usia.

“Selamat malam. Aku Tuhan. Kenapa lama sekali?” ***

sumber: http://bisikanbusuk.blogspot.com/search/label/fiksi
leer más...

Aku Ingin Mencintai dan Melupakanmu dengan Sederhana

| | 0 komentar

aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti embun hinggap
di tepian daun dan tanah yang sabar menyambutnya jatuh

tapi aku ingin melupakanmu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti mata yang berkedip
menyambut pagi, dan daun jendela yang mengintip matahari

tapi aku ingin melupakanmu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti gerimis
pada jendela dan uap nafasmu menulis nama: 'kita'

tapi aku ingin melupakanmu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti waktu
yang tak pernah berhenti dan senyummu yang mengabadikannya

tapi aku ingin melupakanmu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti sebuah peluk
yang sebentar dan satu kecup yang perlahan saja

tapi aku ingin melupakanmu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti kata
'rindu' yang kuucap dan kau membalasnya dengan 'aku juga'

tapi aku ingin melupakanmu

aku ingin melupakanmu dengan sederhana. sesederhana airmata
yang mengalir. sesederhana genggam tangan yang terlepas

tapi aku ingin mencintaimu

sumber: http://bisikanbusuk.blogspot.com/
leer más...

dari kau, dari aku

| | 0 komentar

entah seberapa rumit kenangan bisa kau buat sebelum aku lupa bagaimana caranya mengingat. aku tak bisa lagi melafalkan luka semenjak kau hapus seluruh langkah di dadaku yang telah sedemikian dalam terpahat. tak ada yang begitu rahasia dan membingungkan dari tiap rasa kecewa sebab kita sudah bersepakat akan membunuh harapan masing-masing. dari yang terkecil. dari yang paling samar.

entah seberapa sederhana perpisahan bisa aku jelaskan setelah kau ingat bagaimana caranya melupakan. kau begitu fasih mengeja setiap kesalahan semenjak kita bertemu untuk mempelajari apa saja yang pernah kutulis di hatimu. selalu ada yang tersembunyi dan terlewat dari tiap perbincangan sebab kita tak pernah berjanji untuk memahami masa lalu dan sejarah pilu masing-masing. dari yang pernah terucap. dari yang masih tersimpan.

sumber: http://bisikanbusuk.blogspot.com/2011/08/dari-kau-dari-aku.html

leer más...

sebuah kata itu tajam

| | 0 komentar

Pernahkah anda berbicara sembarangan ?
atau
pernahkah anda berbicara tidak sembarangan ?


atau mungkin pertanyaan yang lebih pantas adalah :
"pernahkah anda berbicara yang tanpa sadar itu menyakiti lawan bicara anda?"

Aku hanya bisa terdiam saat itu, entah siapalah yang salah, atau apalah hal kecil yang keluar itu membuat saya bingung . . dan kesal disaat yang bersamaan . Apa saya memang selalu salah? Mengapa manusia selalu lebih mudah untuk mempermasalahkan? mengapa manusia sulit untuk menahan perasaan? Mengapa manusia diberi otak dan fikiran tetapi susah sekali untuk menggunakan?

atau memang ada yang salah didiri saya?

Saya lelah akan keterpojokan ini,
saya merasa panas akan semuanya . .
Bukankah semua manusia memiliki hak yang sama dalam berbicara?
jika semua manusia memiliki hak yang sama dalam berbicara, seharusnya manusia juga memiliki hak yang sama besar untuk merasa marah, menuangkan komplain terhadap sesuatu, bukan ?

tapi mengapa manusia hanya mempergunakan hak untuk berbicara saja ?
tanpa pernah dipedulikan hak untuk berbicara atas komplain kenyamanan dirinya ?
mengapa manusia kurang menghargai arti kata bebas berpendapat ?
Apa menahan perasaan itu berarti keterpenjaraan suatu pendapat?
apa pendapat yang berbeda itu berarti suatu lambang sakral arti permusuhan ?

Saya hanya manusia,
yang juga memiliki perasaan yang sama lembutnya dengan anda semua . .


Saya tidak minta banyak,
saya hanya ingin komplain saya didengar . .
saya hanya ingin bisa komplain tanpa ada konflik . .
saya hanya ingin bisa seperti kamu . .

sumber: http://doctorbebek.blogspot.com/2010_01_01_archive.html
leer más...